Kumpulan Info Astronomi
Inilah Galaksi-galaksi Paling Terang yang Pernah Ditemukan
Posted: 06 Jun 2017 06:17 PM PDT
Enam galaksi paling terang di alam semesta. Kredit: NASA/ESA/Hubble
Info Astronomy - Berkat pengamatan yang memanfaatkan "kaca pembesar" alami di angkasa raya, Teleskop Antariksa Hubble berhasil memotret galaksi-galaksi paling terang yang pernah ditemukan di alam semesta yang 10.000 kali lebih terang daripada galaksi Bimasakti kita.
Galaksi-galaksi tersebut berjarak sangat jauh dari Bumi, namun melalui fenomena yang disebut sebagai lensa gravitasi, para astronom menggunakan Hubble berhasil melihat galaksi-galaksi tersebut yang bentuknya bagaikan jaring kusut yang diselingi oleh pola eksotis seperti cincin dan busur.
Bentuk-bentuk aneh dari galaksi-galaksi ini disebabkan oleh gravitasi yang melintang di latar depannya, yang mendistorsi gambar galaksi-galaksi tersebut yang berada di latar belakang. Bentuk yang tidak biasa juga mungkin dihasilkan oleh tarikan dan tabrakan spektakuler antara galaksi jauh dan besar.
"Kami telah menemukan jackpot melalui lensa gravitasi," kata pemimpin peneliti James Lowenthal dari Smith College di Northampton, Massachusetts, AS. "Galaksi-galaksi yang sangat bercahaya dan masif ini sangat langka, lensa gravitasi memperbesarnya sehingga kita dapat melihat detail-detail kecil yang unik.
"Kami ingin lebih jauh mempelajari tentang apa yang menyebabkan galaksi-galaksi masif ini dapat menyala terang, dan lensa gravitasi memungkinkan kita untuk mempelajarinya hal itu secara lebih rinci."
Galaksi-galaksi diketahui juga memproduksi sangat banyak bintang, diperkirakan lebih dari 10.000 bintang baru setiap tahun. Kelahiran bintang yang luar biasa cepat ini terjadi pada puncak ledakan bintang di alam semesta sekitar 8 miliar tahun yang lalu.
Ekstremnya tingkat kelahiran bintang menciptakan banyak debu, yang menyelimuti galaksi-galaksi induknya, sehingga membuat mereka terlalu redup untuk dideteksi dalam cahaya tampak. Walau begitu, galaksi-galaksi ini tetap bersinar terang dalam cahaya inframerah, bersinar dengan kecemerlangan 10 triliun hingga 100 triliun kali cahaya Matahari.
Lensa gravitasi terjadi saat gravitasi dari sebuah galaksi besar atau gugusan galaksi memperbesar cahaya dari benda-benda langit lain yang ada di latar belakangnya yang lebih redup dan lebih jauh. Jadi, gravitasi bukan hanya gaya yang menarik sesuatu ke dalamnya, melainkan juga bertindak sebagai "kaca pembesar" di alam semesta.
Menurut tim peneliti, hanya ada belasan galaksi inframerah terang seperti yang ditemukan ini di alam semesta, mereka tersebar di segala penjuru langit. Galaksi-galaksi tersebut berada di daerah yang sangat padat sehingga bisa memicu formasi bintang yang cepat di alam semesta awal.
Galaksi-galaksi tersebut mungkin menyimpan petunjuk bagaimana galaksi terbentuk miliaran tahun yang lalu. "Ada banyak hal yang tidak diketahui tentang formasi bintang dan galaksi," Lowenthal menjelaskan. "Kita perlu memahami galaksi-galaksi ini untuk mendapatkan penjelasan lengkap tentang bagaimana pembentukan galaksi dan bintang-bintang sejak alam semesta awal."
Melalui pengamatan lebih lanjut, diketahui bahwa galaksi-galaksi ini berada pada jarak antara 8 miliar hingga 11,5 miliar tahun cahaya dari Bumi, masa-masa ketika alam semesta masih mampu membentuk bintang lebih banyak daripada sekarang ini.
Jadi, mengamati galaksi-galaksi paling terang ini semacam melihat kembali ke masa lalu alam semesta, dan memang seperti itulah bila kita melihat objek-objek jauh di alam semesta; semakin jauh jaraknya, semakin jauh kita melihat ke masa lalu.
Saat ini, tim peneliti sedang melanjutkan pengamatannya sembari menunggu Teleskop Antariksa James Webb, sebuah observatorium inframerah yang dijadwalkan diluncurkan pada tahun 2018. James Webb akan digunakan untuk mengukur kecepatan pembentukan dan pergerakan bintang di galaksi-galaksi tadi sehingga para astronom dapat menghitung massa benda-benda terang ini.
Dilansir dari siaran pers Hubble.
Mengenal Katai Cokelat, Bintang Gagal yang Menyerupai Planet
Posted: 06 Jun 2017 01:59 AM PDT
Ilustrasi katai cokelat. Kredit: NASA/JPL-Caltech
Info Astronomy - Alam semesta tak hanya berisi bintang, planet, dan satelit-satelit alami saja, melainkan juga benda-benda unik seperti katai cokelat. Benda langit yang satu ini cukup menarik karena ia terlalu besar untuk disebut planet, tapi terlalu kecil untuk menjadi sebuah bintang.
Ya, terkadang awan gas dan debu molekuler yang runtuh tidak menciptakan bintang, bisa saja menjadi sebuah katai cokelat. Katai cokelat memiliki unsur-unsur yang mirip bintang, namun ia kekurangan massa untuk memulai fusi nuklir di intinya.
Karena katai coklat tidak pernah melakukan proses fusi pada intinya, para ilmuwan kadang-kadang menyebut mereka sebagai "bintang gagal."
Kegagalan Pembentukan
Proses pembentukan sebuah katai coklat sebenarnya hampir seperti pembentukan bintang sejati pada umumnya. Yakni runtuhnya awan debu dan gas molekuler, kemudian gravitasi mengikat material-material runtuhan tadi secara rapat dan membentuk protobintang muda di pusatnya.
Untuk jenis bintang deret utama (seperti Matahari kita), gravitasi mendorong masuk ke dalam sampai fusi hidrogen terjadi dalam inti mereka. Namun, sebuah katai cokelat tidak pernah mencapai tahap krusial seperti deret utama ini.
Hal tersebut terjadi karena saat pembentukannya, tidak ada cukup massa pada sebuah katai cokelat. Semakin besar massa, semakin lancar proses fusi hidrogen. Pada akhirnya, bintang tersebut tidak menyala terang, melainkan hanya redup saja menyerupai planet namun ukurannya terlampau besar.
Mengapa Tak Dianggap Sebagai Planet?
Katai cokelat sendiri dapat terbentuk dalam berbagai massa dan suhu. Ukuran katai cokelat yang telah diteliti para astronom dunia berkisar antara 13 sampai 90 kali massa Jupiter, atau sekitar sepersepuluh massa Matahari.
Karena katai cokelat memiliki massa yang sangat kecil, hal ini kadang membingungkan para astronom saat pertama kali menemukannya; mereka menemukan katai cokelat atau planet masif? Mirip seperti planet, katai cokelat dapat memiliki atmosfir dengan aurora, awan, dan bahkan badai. Namun juga seperti bintang, katai cokelat bisa diorbiti oleh sebuah planet.
Salah satu cara untuk membedakannya adalah, seperti bintang pada umumnya, katai cokelat menciptakan cahaya mereka sendiri. Namun cahayanya tidak seterang bintang sejati, melainkan katai cokelat bersinar dalam cahaya inframerah dan memancarkan sinar-X yang dapat diukur para astronom.
Karena kebingungan untuk membedakan antara katai cokelat dengan planet inilah, International Astronomical Union menganggap benda dengan massa minimal kira-kira 13 kali massa Jupiter dianggap sebagai katai cokelat. Tapi bila massanya masih di bawah angka 13 kali massa Jupiter, maka dianggap sebagai planet.
Sumber: Space.com, Astronomy.com, Cool Cosmos.
Sekelompok Astronom Temukan Planet Raksasa Gas Terpanas Sejagad
Posted: 05 Jun 2017 08:24 PM PDT
Ilustrasi planet KELT-9b yang atmosfernya menguap saat mengitari bintang KELT-9. Kredit: NASA/JPL-Caltech
Info Astronomy - Baru-baru ini, sekelompok astronom berhasil menemukan planet raksasa gas mirip Jupiter namun suhunya sepanas bintang. Yang menarik, atmosfer dari planet raksasa gas tersebut juga menguap saking panasnya sehingga seolah memiliki ekor bagaikan komet.
Dengan suhu siang hari lebih dari 4.300 derajat Celcius, planet raksasa gas yang dinamai sebagai KELT-9b menjadi sebuah planet yang lebih panas daripada kebanyakan bintang di alam semesta. Planet tersebut juga mengitari bintang tipe A yang bercahaya biru bernama KELT-9 yang bahkan jauh lebih panas.
"Ini adalah planet raksasa gas terpanas yang pernah ditemukan," kata Scott Gaudi, profesor astronomi di Ohio State University di Columbus, AS yang memimpin studi tentang KELT-9b tersebut. Gaudi mengerjakan penelitian ini saat cuti panjang di Laboratorium Propulsi Jet NASA, California, AS.
KELT-9b diketahui memiliki ukuran sekitar 2,8 kali lebih besar dari planet Jupiter, tapi kepadatannya diketahui hanya setengah kepadatan Jupiter. Para ilmuwan memperkirakan, planet ini memiliki radius yang lebih kecil, namun radiasi ekstrem dari bintang induknya telah menyebabkan atmosfer planet membesar seperti balon.
Karena planet ini terkunci gravitasi pada bintang induknyanya -- seperti Bulan terhadap Bumi -- hanya satu sisi planet saja yang selalu menghadap ke arah bintang induknya, sementara satu sisi lainnya berada dalam kegelapan abadi.
Molekul seperti air, karbon dioksida, dan metana tidak dapat terbentuk pada sisi planet KELT-9b yang terus-menerus menghadap ke bintang induknya karena dibombardir oleh radiasi ultraviolet yang terlalu banyak. Sementara itu, penelitian untuk sisi malam hari planet ini masih misterius, mungkin saja beberapa molekul bisa terbentuk di sana, tapi mungkin hanya sementara.
Bintang induknya, KELT-9, diketahui berusia sekitar 300 juta tahun, usia yang masih terbilang muda bagi sebuah bintang. Bintang ini berukuran lebih dari dua kali lebih besar, dan hampir dua kali lebih panas, daripada Matahari kita.
Mengingat bahwa atmosfer planet raksasa gas KELT-9b ini terus-menerus dihantam oleh radiasi ultraviolet tingkat tinggi dari bintang KELT-9, hal tersebutlah yang membuat planet raksasa gas ini memiliki ekor dari penguapan atmosfer seperti komet.
"KELT-9 memancarkan radiasi ultraviolet sehingga bisa menyebabkan penguapan atmosfer planet ini," kata Keivan Stassun, seorang profesor fisika dan astronomi di Universitas Vanderbilt, Tennessee, AS yang mengarahkan studi tersebut ke Gaudi.
"Bintang KELT-9 akan membengkak menjadi bintang raksasa merah dalam beberapa ratus juta tahun ke depan," tambah Stassun. "Sehingga prospek jangka panjang untuk mencari kehidupan asing pada planet KELT-9b tidak terlihat bagus."
Planet ini juga tidak biasa karena mengorbit tegak lurus terhadap sumbu rotasi bintang induknya. Hal ini menyebabkan sang planet raksasa gas mengorbit bintang induknya begitu cepat, bahkan satu "tahun" di planet ini hanya berlangsung kurang dari dua hari Bumi.
Planet KELT-9b ditemukan menggunakan salah satu dari dua teleskop yang disebut KELT, atau Kilodegree Extremely Little Telescope. Pada akhir Mei dan awal Juni 2016, para astronom yang menggunakan teleskop KELT-North di Observatorium Winer di Arizona melihat sedikit penurunan kecerahan bintang KELT-9.
Penururan kecerahan bintang tersebut mengindikasikan bahwa ada sebuah planet mungkin telah melintas di depan wajahnya atau transit di depan bintang KELT-9. Kecerahan bintang tersebut teramati meredup setiap 1,5 hari sekali, yang berarti planet ini menyelesaikan revolusi terhadap bintangnya setiap 1,5 hari saja.
Pengamatan selanjutnya akhirnya mengkonfirmasi bahwa peredupan tersebut memang disebabkan oleh adanya sebuah planet, dan mengungkapkannya sebagai apa yang oleh para astronom sebut "Jupiter panas", planet mirip Jupiter namun suhunya sangat panas.
"Penemuan ini merupakan bukti kekuatan penemuan dengan teleskop kecil, dan kemampuan ilmuwan independen untuk berkontribusi secara langsung terhadap penelitian ilmiah mutakhir," kata Joshua Pepper, astronom dan asisten profesor fisika di Lehigh University di Bethlehem, AS.
Sumber: NASA, IFLScience.
0 Response to "Kumpulan Info Astronomi"
Posting Komentar